header-int

Dosen IAIN Jember Berikan Khutbah di KBRI Australia

Senin, 12 Agu 2019, 09:08:36 WIB - 315 View
Share
Dosen IAIN Jember Berikan Khutbah di KBRI Australia

Masyarakat Muslim Australia yang berada di Canberra menunaikan salat Idul Adha 1440 Hijriah di Balai Kartini Kedutaaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra, Minggu, 11 Agustus 2019. Bertindak sebagai khatib, Dosen Fakultas Syariah IAIN Jember Wildani Hefni yang juga mahasiswa di The Australian National University (ANU) Canberra. 

Semarak Idul Adha di Canberra terlaksana berkat kerjasama Australia-Indonesia Muslim Foundation Australian Capital Territory (AIMF-ACT) dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Canberra. Shalat Idul Adha dimulai jam 08.00 pada puncak musim dingin kisaran minus 3 derajat. 

Dalam khutbahnya, Wildan mengangkat tema Visi Moderasi Beragama dalam Ritual Kurban dan Haji. Dikatakan, dari aspek nilai filosofis, ritual kurban dan haji merefleksikan visi moderasi beragama yang dapat dipahami dalam arti moderat dengan meyakini cara ibadah masing-masing tanpa menyalahkan yang lain. Selain itu, pengorbanan Ibrahim menggambarkan aktualisasi integrasi cinta Tuhan dan cinta kemanusiaan.

Dihadapan ratusan masyarakat Muslim di Ibu Kota Australia itu, Alumnus PMII IAIN Walisongo ini menyampaikan bahwa tokoh sentral dalam sejarah ritual kurban dan haji adalah Nabi Ibrahim. Ibrahim telah mengajarkan perjuangan humanistik dalam menjalankan pesan keagamaan disertai perjuangan kemanusiaan. 

“Ibrahim telah mengajarkan kita bagaimana menemukan cinta sejati yang dibangun diatas ketulusan untuk berkurban hingga menuai kesalehan personal dan sosial”, ungkapnya. 

Wildan mengutip penjelasan Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulum al-Din tentang sifat hati manusia yang diantaranya adalah sifat bahimiyah, sifat kebuasan, dan pula sifat syaithaniyah. Tidak heran, jika watak manusia seringkali dikuasai kemarahan, penuh kebencian, caci maki, dan segala perbuatan tercela lainnya. 

Dalam konteks itu, ia menekankan relevansi ritual kurban untuk menanggalkan ego primordialisme dan menenggelamkan eksklusivitas. Ritual kurban dimaksudkan sebagai perjuangan untuk menghindari cinta buta, cinta dunia berlebihan.

“Jiwa kebinatangan inilah yang harus kita sembelih agar kita menjadi orang yang shalih dan bertakwa. Pada titik inilah, agama mengajarkan kepada kita tentang beragama yang moderat, yang terbuka, yang tidak terjebak pada nilai-nilai kehewanan yang tak terpuji”, urainya.

“Ritual kurban sejatinya mengandung gema profetik penghayatan keberagamaan agar tak muncul kekerasan dalam aras kehidupan”, tambahnya.

Sementara ritual ibadah haji, dikatakan oleh alumnus Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini juga merupakan gambaran dari kerangka konseptual moderasi beragama. Dalam proses ibadah haji, tidak lagi ada perbedaan status sosial, tidak ada atasan-bawahan, tidak ada orang kaya-miskin, semuanya sama. Yang berbeda hanya pada konteks praktik ibadah yang dijalankan. Keragaman dalam keberagamaan adalah sebuah keniscayaan dalam proses ibadah haji.

“Ibadah haji mempertemukan keragaman etnis, budaya, suku, bangsa, bahasa, dialek, dan bahkan praktik serta pemahaman keagamaan. Disitulah nilai toleransi dijungjung. Keragaman dalam keberagamaan dilakukan. Nilai inilah yang seharusnya berimplikasi positif terhadap aktifitas kehidupan yang damai”, pungkasnya. (Humas/ Ahmad Winarno)

Unidha Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Sebagai salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTIN) terkemuka di wilayah tapalkuda, IAIN Jember terus berbenah untuk menjadi Universitas Islam Negeri pertama di wilayah tapalkuda. Berbagai sarana dan prasana pendidikan, Mahad dan Gedung Dosen yang megah telah di resmikan oleh Menteri Agama RI di awal tahun 2017.

Jl. Mataram No. 1 Mangli, Jember 68136, Jawa Timur, Indonesia

+62 331-487550, 427005

+62 331-427005

info@iain-jember.ac.id

© 2019 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember Follow Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember : Facebook Twitter Linked Youtube